M. Basri, Legenda Sepak Bola Nasional Tutup Usia
SURABAYA-RAYA: Dunia sepak bola Indonesia kehilangan salah satu sosok berpengaruhnya. Mantan pemain Timnas Indonesia sekaligus pelatih nasional, M. Basri, meninggal dunia pada usia 83 tahun di Surabaya pada Kamis (23/7) pukul 04.50 WIB.
Kepergiannya meninggalkan duka bagi sejumlah klub yang pernah dibawanya meraih prestasi. Termasuk Arema, PSM Makassar, dan Persebaya Surabaya, hingga PSS Sleman dan Persiba Bantul.
Kabar wafatnya M. Basri pertama kali disampaikan pihak keluarga dan dikonfirmasi sejumlah rekan sesama legenda sepak bola nasional. Sebelum meninggal, pria kelahiran Makassar, 5 Oktober 1942, itu menjalani perawatan di Rumah Sakit Darmo, Surabaya.
Selama puluhan tahun berkiprah di sepak bola Indonesia, M. Basri dikenal sebagai pemain, pelatih, sekaligus pembina yang melahirkan banyak pesepak bola. Namanya juga tercatat pernah menangani Tim Nasional Indonesia serta sejumlah klub besar di era kompetisi Perserikatan dan Galatama.
Arsitek Gelar Perdana Arema
Salah satu pencapaian terbesar M. Basri terjadi bersama Arema. Ia menjadi pelatih yang mengantarkan Singo Edan meraih gelar juara Galatama musim 1992-1993, trofi liga pertama dalam sejarah klub tersebut. Prestasi itu menjadikannya sebagai salah satu sosok penting dalam perjalanan Arema hingga kini.
Keberhasilan tersebut tidak hanya menghadirkan gelar, tetapi juga membangun fondasi permainan dan mental juara yang kemudian menjadi identitas Arema pada era-era berikutnya. Atas jasanya, keluarga besar Arema FC menyampaikan belasungkawa dan menyebut warisan M. Basri akan selalu dikenang oleh klub maupun Aremania.
Hal itu diakui oleh Aji Santoso. Pemain yang mendapatkan polesan Basri saat memperkuat Arema.
"Beliau ini merupakan sosok pengayom. Akrab dengan semua pemain,” kenang Aji Santoso. “Coach Basri, selalu menempatkan dirinya sebagai bapak bagi anak-anak. Sabar, dan jadi tauladan,’’ lanjutnya.
Sifat kebapakan Basri yang membuat tim semakin solid. Sampai akhirnya Singo Edan mampu keluar sebagai juara Galatama 1992-1993. “Terima kasih pelatih, sekaligus ayahku,’’ ujarnya.
Selain bersama Arema, M. Basri juga pernah menangani PSM Makassar, Persebaya Surabaya, NIAC Mitra, hingga Tim Nasional Indonesia. Kiprahnya menjadikan ia sebagai salah satu pelatih yang mewarnai perkembangan sepak bola nasional lintas generasi.
Jejak Panjang di Sepak Bola Nasional
Sebelum menjadi pelatih, M. Basri lebih dulu dikenal sebagai pemain Timnas Indonesia. Pengalamannya di lapangan kemudian menjadi bekal membangun karier kepelatihan yang berlangsung selama beberapa dekade.
Sejumlah tokoh sepak bola nasional turut menyampaikan duka atas kepergiannya. Legenda Timnas Indonesia dan Persebaya Djoko Malis Mustafa berharap almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Dia mengenang M. Basri sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya bagi kemajuan sepak bola Indonesia.
“Sifat pengayom, kebapakan, akrab dengan pemain, itulah yang membuat anak asuhnya rela melakukan apa saja di lapangan,” ujar Djoko
Kepergian M. Basri menambah daftar tokoh sepak bola nasional yang berpulang dalam beberapa tahun terakhir. Namun, jejaknya sebagai pelatih yang membawa Arema meraih gelar liga perdana serta kontribusinya bagi Timnas Indonesia diperkirakan akan terus menjadi bagian penting dalam sejarah sepak bola nasional. n
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
Belum ada komentar.