Profil M. Basri, Kolektor Gelar dan Pencetak Generasi Emas
JAKARTA-RAYA: Kepergian M. Basri pada Kamis (23/7) menutup perjalanan panjang salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola Indonesia. Selama lebih dari enam dekade, pria kelahiran Makassar, 5 Oktober 1942, itu mengabdikan hidupnya sebagai pemain, pelatih, hingga pembina yang melahirkan banyak prestasi bagi klub maupun tim nasional Indonesia.
M. Basri mengawali karier sebagai pemain bersama MOS Makassar sebelum memperkuat PSM Makassar, Pardedetex Medan, dan Warna Agung Jakarta. Di level internasional, ia menjadi bagian Tim Nasional Indonesia sepanjang 1962–1973 dan tampil dalam berbagai turnamen bergengsi seperti Asian Games, Pra Olimpiade, hingga Pra Piala Dunia.
Bersama Timnas, ia ikut mempersembahkan gelar King's Cup 1969, Merdeka Tournament, serta Pesta Sukan 1970.
Namun, nama M. Basri justru semakin harum ketika beralih menjadi pelatih. Filosofi permainan yang disiplin dan kemampuannya membangun tim membuatnya dipercaya menangani sejumlah klub besar Indonesia, mulai Persebaya Surabaya, NIAC Mitra, Arema Malang, PSM Makassar, Persela Lamongan, Persita Tangerang, PSS Sleman, hingga Persiba Bantul. Ia juga dua kali dipercaya menjadi pelatih Timnas Indonesia.
Kolektor Gelar di Klub dan Tim Nasional
Karier M. Basri dipenuhi gelar juara, baik saat masih menjadi pemain maupun setelah beralih menjadi pelatih. Bersama PSM Makassar, ia dua kali mengangkat trofi Perserikatan pada musim 1964–1965 dan 1965–1966, sebelum menjadi bagian dari generasi emas Tim Nasional Indonesia pada akhir 1960-an.
Salah satu pencapaian terbesar M. Basri sebagai pemain adalah membawa Indonesia menjuarai King's Cup 1968 di Bangkok, Thailand. Tim Merah Putih mengalahkan Burma di partai final untuk merebut gelar perdana turnamen internasional tersebut. Setahun kemudian, Indonesia kembali menembus final King's Cup 1969, tetapi harus puas sebagai runner-up setelah dikalahkan Korea Selatan.
Selain King's Cup, M. Basri juga menjadi bagian dari skuad Indonesia yang menjuarai Merdeka Tournament 1969, salah satu turnamen paling bergengsi di Asia Tenggara pada masanya. Prestasi itu mengukuhkan namanya sebagai salah satu pemain terbaik Indonesia pada era 1960-an.
Saat beralih menjadi pelatih, M. Basri kembali menorehkan prestasi. Ia mengantar Persebaya Surabaya menjuarai Perserikatan 1978, kemudian membawa NIAC Mitra mendominasi era Galatama dengan tiga gelar liga pada musim 1980–1981, 1982–1983, dan 1986–1987.
Arsitek Kejayaan Arema
Puncak karier kepelatihan M. Basri datang bersama Arema Malang. Pada musim Galatama 1992–1993, ia sukses mengantarkan Singo Edan meraih gelar liga nasional pertama dalam sejarah klub. Keberhasilan tersebut menjadi tonggak penting yang membentuk identitas Arema sebagai salah satu kekuatan besar sepak bola Indonesia.
Di level tim nasional sebagai pelatih, M. Basri juga mempersembahkan medali perunggu SEA Games 1989. Meski bukan gelar juara, pencapaian itu menjadi prestasi terbaik Indonesia di bawah arahannya.
Dengan torehan gelar King's Cup bersama Timnas Indonesia, dua gelar Perserikatan sebagai pemain, empat gelar liga sebagai pelatih klub, serta keberhasilan melahirkan juara pertama Arema, M. Basri dikenang sebagai salah satu figur paling lengkap dalam sejarah sepak bola nasional. Warisannya tidak hanya berupa trofi, tetapi juga fondasi bagi perkembangan sepak bola Indonesia lintas generasi. n
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
Belum ada komentar.