RayaKhazanah

Monyet Meraung Penghibur Soekarno

Trijon Aswin | Minggu, 26 Juli 2026 | 11:37 WIB | 19 dibaca

JAKARTA-RAYA: Presiden Indonesia pertama itu sejatinya seorang seniman. Soekarno tidak saja penikmat karya seni kelas tinggi, tetapi juga pencipta. Dia senang menikmati seni lukis, dan dia juga pelukis yang terampil.  

Selain gemar menikmati  lukisan dan melukis, salah satu kesukaan Bung Karno adalah mendengarkan lagu. Di masanya banyak sekali biduan terkenal yang menjadi penyanyi tetap di Istana. Sebutlah misalnya nama Titiek Puspa, Yosephine Sudarti, Nani Nurani dan sebagainya. Juga ada Maria Magdalena Rubinem. Rubinem ini adalah sinden kesukaan Sang Proklamator.

Seperti kegemarannya melihat lukisan yang diwujudkannya dengan melukis, kecintaannya pada seni suara juga mendorongnya mencipta lagu sendiri. Tidak diketahui berapa lagu. Salah satu lagu yang pernah dicipta Sang Putra Fajar berjudul “Bersuka Ria”. Lagu ini dinyanyikan Rita Zahareah, Nien Lesmana, Titiek Puspa, dan Bing Slamet yang diiringi orkes Irama pimpinan Jack Lesmana

Salah satu yang juga sering diundang ke Istana adalah kelompok musik legendaris, Impola Group. Vokalisnya Gordon Tobing. 

Bung Karno menemukan Gordon dalam  pertemuan yang unik. Alkisah, tahun 1961, Bung Karno berkunjung ke Beijing. Tuan rumah punya kiat khusus untuk memberi kejutan kepada Soekarno. 

Perdana Menteri China, Zhou Enlai, rupanya tahu bahwa Bung Karno pernah menangis terharu ketika baru turun di Bandara Vnukovo, Moskow. Penyebabnya, Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Kruschev mengerahkan 150 pemusik militer untuk  berkumpul di bandara . Mereka disuruh menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. 

“Pemandangan ini membuat mataku berlinang karena bangga. Bangga karena negeri kami mendapat penghargaan demikian,” kata Bung Karno, sebagaimana dikisahkan Cindy Adams dalam Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams.

Rupanya, Zhou meniru cara itu. Dia mengundang sebuah kelompok musik rakyat asal Indonesia, yang kerap melanglang buana, dan kebetulan tengah singgah di Beijing. Grup itu adalah Impola.

Ketika Bung Karno menginjakkan kaki di landasan, Gordon menyanyikan lagu “A Sing Sing So”. Alangkah terperanjatnya Soekarno.

“Siapa itu yang menyanyikan lagu Batak di sini?” tanyanya kepada Ajudan. Setelah diberi tahu, Bung Karno berucap, “Hebat, lagu Batak sampai di sini.”

Sejak itu, Gordon sering diundang ke Istana. Lagu “A Sing Sing So” ciptaan Siddik Sitompul itu semakin terkenal, termasuk di Tiongkok sendiri. Entah kebetulan entah tidak, lagu ini kemudian digubah sedemikian rupa dan dinyanyikan dalam upacara penutupan Asian Games 2010 di Guang Zhou, pada tanggal 27 November 2010. Dibawakan dalam bahasa Batak dan bahasa Mandarin, lagu tersebut dalam daftar acara resmi malam itu diberi judul bahasa Inggris yaitu “Indonesian Boat Song”.

Selain penyanyi solo, Bung Karno juga sering mengundang sederet grup band untuk tampil di Istana dalam acara-acara resmi. Grup itu antara lain, Eka Sapta, Aneka Nada, Teruna Ria dan sebagainya. Pokoknya, setiap ada acara, wajib hukumnya menghadirkan penyanyi. 

Satu ketika, Bung Karno menerima Duta Besar AS Howard Jones di Istana Cipanas. Begitu tiba waktunya makan siang, Presiden merasa ada yang kurang.  Sebab acara santai seperti itu selalu diiringi alunan musik. Apalagi biasanya setelah makan, Bung Karno turun melantai dengan tarian lenso, suatu tarian khas muda-mudi dari Maluku. Wajah Bung Karno agak merengut.

Tak pelak lagi, staf Istana kebingungan. Sang Pemimpin Besar Revolusi lalu memanggil AKBP Mangil Martowidjojo, komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP). 

“Anak-anak ada?” tanya Soekarno. Maksudnya, para pegawai Istana. 

“Siap! Ada, Paduka,” jawab Mangil. 

Setelah para staf itu berkumpul, mereka disuruh mengumpulkan barang apa saja untuk dipukul-pukul, yang penting bisa mengeluarkan bunyi-bunyian. Terkumpullah aneka barang, seperti panci, baskom, periuk dan rupa-rupa peralatan dapur. Mereka diperintahkan bernyanyi dengan alat musik aneh itu.

Jreengg...manggunglah kelompok musik dadakan tersebut.

Setelah acara selesai, alat-alat dapur itu rusak dan penyok semua. “Wah, bagaimana ini nanti, Pak. Sebab alat-alat dapur ini saya pinjam dari tetangga sebelah,” kata pelayan dapur kepada Mangil, si penanggungjawab band panci itu.

“Beres, nanti diganti,” kata Mangil dalam memoarnya Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967

Mulai saat itu, Mangil mulai membeli alat musik satu persatu.  Dia juga berinisiatif membentuk grup musik. Dia pelajari irama kesukaan Bung Karno. Irama yang sangat disukai Sang Presiden adalah cha-cha, yang masuk dalam genre musik afro cuban, perpaduan antara budaya Afrika dan Cuba. Ciri khas musik ini adalah pola rhythm-nya yang sangat jelas.

Kelompok musik itu dipimpin Mayor Polisi Iskandar Winata, juga dari DKP.. Anggotanya kebanyakan diambil dari polisi. Waktu itu sudah ada Korps Musik (atau disingkat Korsik) di Kepolisian. Kantor mereka di daerah Cipinang, di belakang kantor Asisten Logistik Kapolri sekarang.

Lagu yang dibawakan selalu berirama cha-cha. Ini irama wajib bagi Bung Karno. Ajudan Presiden ketika itu, Bambang Widjanarko, dalam buku Sewindu Dekat Bung Karno, menceritakan kebosanannya mendengar irama yang sama berjam-jam. Tetapi, setiap kali anak band itu mengganti irama, Bung Karno langsung membentak marah.

Nah, karena tahu Bung Karno penggila cha-cha, walaupun pemain band-nya sudah mulai bosan memainkan irama itu, Iskandar Winata memberi nama grupnya dengan Grup ABS (Asal Bapak Senang).

“Sejak itu lahirlah istilah Asal Bapak Senang atau ABS,” kata Bambang.

Bung Karno pernah bertanya kepada Bambang Widjanarko. “Mbang, apa itu ABS?” tanya Soekarno.

“Oh, itu nama band-nya Pak Mangil, Pak,” jawab Bambang. Sang Presiden hanya mangut-mangut.

Entah pernah mengetahui kepanjangan asli dari ABS itu atau tidak, yang jelas Bung Karno tak pernah bertanya lagi soal itu.

Tapi besar kemungkinan dia sudah mendengar bisik-bisik soal apa arti ABS. Dia tahu, nama itu seperti mengejek dirinya, yang koppig soal aliran musik cha-cha. Tapi, manalah mungkin Soekarno kalah akal dalam urusan begini. 

Lalu, dia memberi nama lain kepada band itu: Brul Apen. Nama yang diambil dari Bahasa Belanda itu terdengar “keren”, tapi artinya: Monyet yang meraung-raung!

Dan tentu saja, monyet-monyet, eh, maksudnya personil band amatiran itu, tak berani memprotes nama tersebut. Mereka setia meraung-raung menghibur Bung Karno, sampai akhirnya Pemimpin Besar Revolusi itu berlalu ke balik ufuk sejarah negeri ini.■

Komentar (0)

lock

Login untuk berkomentar

Belum ada komentar.

RayaSport

Indeks

Berita Terkait