RayaRagam

Bahaya Online Mengintai Anak, Orang Tua Wajib Tahu!

Inge | Jumat, 24 Juli 2026 | 07:44 WIB | 5 dibaca

JENEWA-RAYA: Internet telah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak. Mereka menggunakannya untuk belajar, bermain gim, menonton video, hingga berinteraksi di media sosial. Namun di balik berbagai manfaat tersebut, tersimpan ancaman yang tak boleh dianggap sepele.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa satu dari tiga pengguna internet di dunia adalah anak-anak. Angka ini menunjukkan betapa besarnya paparan anak terhadap ruang digital, sekaligus meningkatkan risiko mereka menjadi korban berbagai bentuk kekerasan online.

WHO menegaskan bahwa kekerasan di dunia maya bukan sekadar saling mengejek di media sosial. Dampaknya bisa memengaruhi kesehatan mental, fisik, bahkan masa depan anak jika tidak segera ditangani.

Bentuk Kekerasan Online yang Perlu Diwaspadai

Ada sejumlah ancaman digital yang paling sering mengincar anak-anak.

1. Grooming atau manipulasi online

Pelaku membangun kedekatan emosional dengan anak melalui media sosial, gim online, atau aplikasi percakapan. Setelah mendapatkan kepercayaan korban, hubungan tersebut dimanfaatkan untuk melakukan eksploitasi seksual.

2. Penyebaran konten seksual anak

Foto atau video yang menampilkan tubuh anak dapat disebarkan tanpa izin dan terus beredar di internet. Sekali tersebar, konten tersebut sangat sulit dihapus sepenuhnya.

3. Eksploitasi seksual melalui siaran langsung

Pelaku memanfaatkan layanan video daring untuk menyiarkan pelecehan seksual terhadap anak kepada pihak lain secara langsung.

4. Cyberbullying

Perundungan di dunia maya bisa berupa hinaan, ancaman, penyebaran fitnah, hingga mempermalukan korban secara berulang. Meski terjadi di balik layar, dampaknya sama seriusnya dengan perundungan di dunia nyata.

5. Sextortion

Pelaku menggunakan foto atau video pribadi korban sebagai alat pemerasan. Anak bisa dipaksa mengirim uang, membuat konten baru, atau memenuhi keinginan pelaku karena takut materi tersebut disebarluaskan.

Dampaknya Tak Hanya Psikologis

WHO menilai kekerasan online merupakan persoalan kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius.

Korban berisiko mengalami trauma, depresi, gangguan kecemasan, stres pascatrauma (PTSD), hingga muncul pikiran untuk mengakhiri hidup. Pada kasus penyebaran foto intim, korban juga kerap hidup dalam ketakutan karena materi tersebut dapat muncul kembali kapan saja.

Tak hanya kesehatan mental, kondisi fisik anak juga bisa terganggu. Tekanan akibat cyberbullying atau ancaman digital sering memicu sulit tidur, sakit kepala berkepanjangan, hingga gangguan pencernaan.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Mendampingi anak saat menggunakan internet menjadi langkah paling penting. Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka sehingga anak merasa aman untuk bercerita ketika menghadapi masalah di dunia maya.

WHO juga menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan, mulai dari dokter, psikolog, hingga perawat, dalam mendeteksi tanda-tanda kekerasan digital sejak dini, memberikan pendampingan, serta memastikan anak memperoleh perlindungan yang dibutuhkan.

Selain itu, edukasi kepada keluarga, penguatan pola pengasuhan di era digital, serta kerja sama antara sekolah, tenaga kesehatan, aparat penegak hukum, dan lembaga perlindungan anak menjadi kunci untuk mencegah semakin banyak korban.

Pada akhirnya, dunia digital bukanlah ruang yang sepenuhnya aman bagi anak. Karena itu, kewaspadaan orang tua, komunikasi yang hangat, serta pendampingan saat anak beraktivitas di internet menjadi benteng pertama untuk melindungi mereka dari berbagai ancaman yang mengintai. 

Komentar (0)

lock

Login untuk berkomentar

Belum ada komentar.

RayaSport

Indeks

Berita Terkait