Dr. Muherman Harun, Pendekar TBC yang Tak Menyerah
JAKARTA-RAYA: Ada orang yang menghabiskan hidupnya untuk mengobati penyakit. Ada pula yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk memerangi penyakit yang pernah hampir merenggut nyawanya sendiri.
Dr. Muherman Harun, Sp.P, termasuk dalam golongan yang kedua.
Di usia lebih dari sembilan dekade, dokter spesialis paru lulusan Belanda itu masih berdiri tegak membawa semangat yang sama seperti puluhan tahun silam: memastikan semakin banyak orang selamat dari tuberkulosis (TBC), penyakit yang pernah mengubah jalan hidupnya.
Dedikasi panjang itu kemudian mendapat pengakuan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Melalui buku autobiografi berjudul “Pendekar TBC”, dr. Muherman tercatat sebagai penulis autobiografi tertua di Indonesia, sebuah penghargaan yang bukan sekadar mencatat usia, melainkan juga merayakan keteguhan hati seorang manusia.
Namun, di balik penghargaan tersebut, tersimpan kisah yang begitu mengharukan.
Momen yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan itu justru datang bersamaan dengan kehilangan terbesar dalam hidupnya. Sang istri, perempuan yang setia mendampingi setiap fase perjuangannya, berpulang hanya sehari sebelum penghargaan diserahkan.
Ketika piagam MURI diterimanya pada awal April 2026 lalu, tak ada lagi tangan sang istri yang menggenggamnya erat. Di sampingnya berdiri sang putri, menggantikan sosok yang selama puluhan tahun menjadi teman seperjalanan dalam suka maupun duka.
Piagam penghargaan itu bahkan sempat diletakkan di depan peti jenazah istrinya sebelum prosesi pemakaman berlangsung. Sebuah pemandangan yang menjadi simbol betapa tipis batas antara kebahagiaan dan kesedihan dalam kehidupan manusia.
Namun dr. Muherman memilih tetap hadir. Ia percaya, perjuangan tidak boleh berhenti hanya karena hidup menghadirkan duka.
Memilih Jalan Sulit
Tidak banyak orang mengetahui bahwa sebelum dikenal sebagai salah satu dokter paru senior di Indonesia, Muherman muda pernah menjadi pasien.
Saat berusia sekitar 25 tahun, ia divonis menderita tuberkulosis dalam kondisi berat. Pada masa itu, TBC masih menjadi penyakit yang sangat ditakuti. Pilihan terapi belum sebanyak sekarang, sementara stigma terhadap penderitanya begitu kuat.
Penyakit itu merusak salah satu paru-parunya hingga tidak lagi berfungsi. Banyak orang mungkin akan menyerah menerima kenyataan tersebut. Namun bagi Muherman, pengalaman itu justru menjadi titik balik kehidupannya.
"Saya penyintas TBC dengan satu paru. Saya sebetulnya mau membalas penyakit yang terkutuk itu. Makanya saya jadi dokter spesialis paru," tuturnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan tekad luar biasa. Ia tidak ingin sekadar sembuh. Ia ingin memastikan orang lain tidak mengalami penderitaan yang sama.
Setelah berhasil bertahan hidup dari TBC, Muherman memilih mendalami ilmu penyakit paru. Kesempatan membawanya ke Amsterdam, Belanda, tempat ia memperdalam penanganan tuberkulosis sekaligus bekerja di TB Control Center Amsterdam pada 1976 - 1983.
Bekal ilmu itu tidak ia gunakan untuk berkarier di luar negeri. Ia pulang ke Indonesia dan mengabdikan hidupnya membangun layanan pengendalian TBC, mulai dari Pontianak hingga Jakarta, bahkan menjadikan RS St. Carolus sebagai salah satu pusat pelayanan TBC yang disegani.
Selama lebih dari tiga dekade, dr. Muherman menjadi bagian dari pelayanan kesehatan di Rumah Sakit St. Carolus Jakarta. Puluhan tahun bukanlah waktu yang singkat.
Di ruang praktik dan bangsal rumah sakit, ia menyaksikan ribuan pasien datang dengan napas yang sesak, batuk yang tak kunjung sembuh, hingga harapan hidup yang nyaris padam. Ia merawat mereka bukan hanya dengan resep dan stetoskop, tetapi juga dengan empati.
Sebagai penyintas TBC, ia memahami betul kecemasan yang dirasakan pasien. Ia tahu bagaimana rasanya menghadapi diagnosis yang menakutkan, menjalani pengobatan panjang, hingga berjuang melawan rasa putus asa.
Bagi banyak pasien, dr. Muherman bukan hanya dokter spesialis paru. Ia adalah penyemangat yang membuktikan bahwa seseorang tetap dapat menjalani hidup produktif meski pernah kehilangan satu paru.
Dedikasinya tidak berhenti di ruang praktik. Ia juga aktif mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini TBC, kepatuhan menjalani pengobatan, serta upaya menghapus stigma terhadap para penyintas.
Hebatnya lagi, Dr. Muherman ternyata pernah menjadi relawan kemanusiaan di berbagai wilayah konflik dan krisis, antara lain Kalimantan Barat, Vietnam, Laos, Bangladesh/Pakistan Timur pada masa konflik, serta berbagai lokasi bencana besar di Indonesia, termasuk tsunami dan gempa.
Ia menjalankan misi kemanusiaan bersama organisasi gereja internasional seperti World Council of Churches (WCC), Christian Conference of Asia (CCA), dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Ini menunjukkan bahwa panggilannya sebagai dokter melampaui ruang praktik.
Menulis di Tengah Senja Kehidupan
Memasuki usia lanjut, tubuh memang tak lagi sekuat dulu. Penglihatannya mulai berkurang, tangan yang dahulu lincah memeriksa pasien kini bergerak lebih perlahan.
Namun semangatnya tidak ikut menua. Di tengah keterbatasan fisik, dr. Muherman mulai menuliskan perjalanan hidupnya.
Prosesnya jauh dari mudah. Ia membutuhkan kacamata dengan lensa tebal dan pencahayaan yang sangat terang agar dapat membaca setiap huruf yang ditulisnya.
Sering kali ia menulis ketika malam telah larut. Saat kebanyakan orang terlelap, ia masih duduk di depan meja kerjanya, merangkai kenangan menjadi kalimat.
Ada alasan mengapa ia memilih waktu malam. Pada siang hari, sebagian besar waktunya digunakan untuk merawat mendiang sang istri yang mengidap demensia.
Dengan sabar ia mendampingi perempuan yang telah menjadi teman hidupnya selama puluhan tahun tersebut. Baru setelah semua kebutuhan istrinya terpenuhi, ia memiliki sedikit waktu untuk menulis.
"Mata saya kurang jelas, istri saya juga butuh perhatian karena demensia. Kadang-kadang tengah malam saya menulis," kenangnya.
Buku “Pendekar TBC” lahir bukan hanya dari pengalaman seorang dokter, tetapi juga dari kesabaran seorang suami dan ketangguhan seorang penyintas. Penghargaan MURI yang diraihnya, mungkin akan tercatat dalam sejarah.
Namun warisan terbesar dr. Muherman sesungguhnya bukanlah piagam tersebut. Warisan itu adalah ribuan pasien yang kembali memperoleh harapan.
Warisan itu adalah ilmu yang ia bagikan kepada generasi dokter berikutnya. Warisan itu adalah keberanian untuk mengatakan kepada setiap penyintas TBC bahwa hidup tidak berhenti setelah diagnosis ditegakkan.
Melalui bukunya, ia ingin mengingatkan bahwa penyakit tidak harus mendefinisikan masa depan seseorang.
Seseorang bisa kehilangan satu paru, tetapi tetap memiliki hati yang utuh untuk melayani sesama.
Seseorang bisa memasuki usia senja, tetapi tetap menghasilkan karya yang menginspirasi.
Dan seseorang bisa kehilangan pasangan hidup tepat ketika meraih penghargaan terbesar, tetapi tetap memilih berdiri tegak demi menyelesaikan pengabdian yang telah dimulai puluhan tahun sebelumnya.
Mungkin itulah makna sebenarnya dari seorang pendekar.
Bukan mereka yang tak pernah terluka, melainkan mereka yang tetap memilih berjuang, bahkan ketika hidup telah berkali-kali menguji ketabahannya.
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
Belum ada komentar.