RayaSehat

TB Renggut 17 Nyawa Tiap Jam, Anak Paling Rentan

Inge | Minggu, 26 Juli 2026 | 06:49 WIB | 2 dibaca

JAKARTA-RAYA: Tuberkulosis (TB) masih menjadi ancaman besar bagi anak-anak Indonesia. Sayangnya, penyakit ini belum mendapat perhatian sebesar dampak yang ditimbulkannya. 

Padahal, setiap jam sekitar 17 orang meninggal akibat TB. Fakta tersebut menjadi sorotan dalam diskusi daring yang digelar Stop TB Partnership Indonesia (STPI) bersama Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) bertepatan dengan Hari Anak Nasional belum lama ini.

Data global pada 2024 mencatat sekitar 135 ribu anak usia 0-14 tahun di Indonesia mengidap TB. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan beban kasus TB tertinggi di dunia. 

Di sisi lain, jumlah anak yang menjadi perokok aktif juga masih sangat tinggi, yakni mencapai 5,9 juta orang. Kondisi ini dinilai memperbesar tantangan dalam upaya mengendalikan penyebaran TB.

Dokter spesialis anak Shela Putri Sundawa menjelaskan bahwa asap rokok, baik dari rokok konvensional maupun rokok elektrik, sama-sama berdampak buruk bagi kesehatan paru-paru. Menurutnya, kondisi tersebut membuat anak lebih rentan alami tuberkulosis aktif.

“Mau rokok elektrik, vape, atau rokok konvensional akan membuat paru-paru menjadi tidak bagus, tidak baik. Risiko seseorang terkena TB menjadi lebih mudah,” katanya.

Shela yang juga influencer kesehatan ini mengatakan anak dari keluarga perokok berisiko lebih tinggi terkena TB. Anak yang memiliki kontak erat dengan pasien TB bisa memperoleh terapi pencegahan tuberkulosis (TPT). 

Terapi ini penting untuk dijalani mengingat dapat mengurangi terkena TB. Pemilihan terapi pada anak akan beda dengan orang dewasa, karena disesuaikan berdasarkan usia dan kondisi pasien.

Shela bilang, meski asap rokok tidak secara langsung menyebabkan infeksi TB, tetapi ia akan berpengaruh pada keadaan tubuh anak. Paparan asap rokok mengganggu fungsi saluran napas, memperburuk status gizi, nafsu makan berkurang, dan menghambat proses penyembuhan.

“Pasien yang sembuh dari TB tetap berisiko terkena penyakit paru lain apabila terus merokok atau kena asap rokok, seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK),” ujar Shela.

Ia mendorong pemerintah melakukan perluasan akses layanan diagnosis dan pengobatan TB. Shela menyebut pemeriksaan laboratorium TB ekstra paru khususnya mengalami kesulitan untuk dijangkau masyarakat pelosok.

Selain itu, akses diagnosis dan pengobatan di daerah terpencil perlu diperluas agar penderita bisa mendapatkan penanganan lebih cepat. Dukungan riset dan pengembangan vaksin juga dinilai menjadi bagian penting dalam upaya menekan kasus TB di masa depan.

Sementara itu, Ketua Yayasan STPI Donal Pardede mengatakan pendekatan penanganan TB kini tidak lagi menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan. Upaya menemukan kasus secara aktif melalui skrining di masyarakat menjadi strategi yang terus diperkuat agar penderita dapat segera diobati sekaligus memutus rantai penularan.

Data Kementerian Kesehatan 2025 mencatat estimasi 1.092.000 kasus TB setiap tahunnya. Donal bilang, angka kematian anak terhitung tinggi akibat penyakit TB.

Dijelaskan, TB anak sering terlambat terdeteksi akibat gejala yang timbul tidak spesifik. Orang tua kerap menganggap gejala akibat TB sebagai penyakit umum, dan baru menyadari situasi ketika sudah buruk dalam waktu lama.

“Begitu dignosa telat, risiko terbesar bukan sakit, tapi juga mengganggu tumbuh kembang fisik dan kognitif di masa emas anak. Ini akibat menganggap sepele berat badan susah naik atau demam oleh orang tua,” katanya.

Donal berharap generasi emas bebas dari TB. “Anak-anak tidak lagi kehilangan masa depan atau nyawa akibat penyakit, yang seharusnya bisa diobati dan dicegah.”

Pesannya sederhana. TB bukan penyakit yang boleh disepelekan. 

Dengan deteksi dini, lingkungan bebas asap rokok, serta akses pengobatan yang mudah dijangkau, semakin banyak anak memiliki peluang untuk tumbuh sehat dan terbebas dari ancaman penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dan diobati.

Memperluas Konsep Kawasan Tanpa Asap Rokok

Direktur Eksekutif IYCTC, Manik Marganamahendra, menilai tingginya jumlah perokok di Indonesia tidak lepas dari promosi rokok yang masih mudah dijumpai. Iklan di ruang publik, papan reklame hingga materi promosi di warung membuat anak-anak terus terpapar pesan yang menormalisasi kebiasaan merokok.
“Ini permasalahan yang genting dan perlu segera ditangani secara serius. Promosi rokok masih mudah diakses anak-anak, dan masyarakat umum,” katanya.

Terlebih, kata Manik, budaya merokok dianggap sesuatu hal normal. Padahal, setiap tahunnya 600 ribu orang meninggal akibat rokok, lebih parah dibanding jumlah korban Covid-19 selama 3 tahun. 

Saat ini, imbuhnya, tantangan terberat di Indonesia normalnya perilaku merokok di ruang publik, sekolah, mall, taman, keluarga, dan rumah.

Berdasarkan riset kampus Universitas Indonesia dengan Imparsial College London, 78,4 persen rumah tangga di Indonesia tercemar asap rokok. Ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat paparan tertinggi di kawasan Asia Tenggara. 

Fakta ini, menurut Manik, memberikan sinyal kuat perlunya perluasan konsep Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang tidak hanya menyasar fasilitas umum, namun juga lingkungan anak.

Bagi Manik, secara regulasi Peraturan Pemerintah (PP) No 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan telah mengakomodasi kepentingan perlindungan terhadap anak. Namun, kata Manik, aturan teknis dari PP ini masih terkendala dan menyebabkan gangguan perlindungan masyarakat dari asap rokok jadi lambat.

Manik menerangkan PP 28 Tahun 2024 menyebutkan larangan penempatan iklan rokok dalam radius 500 meter dari sekolah dan penjualan 200 meter. Hal ini membutuhkan pengawalan ketat di lapangan. Ia berharap pemerintah memperkuat implementasi pengendalian rokok, sebab industri rokok masih memanfaatkan celah promosi.

“Ini tanggung jawab pemerintah. Makanya, koordinasi lintas kementerian untuk penanganan rokok dan penyakit TB harus jadi tanggung jawab bersama bukan Kementerian Kesehatan saja,” ujarnya. 

Komentar (0)

lock

Login untuk berkomentar

Belum ada komentar.

RayaSport

Indeks

Berita Terkait