Naik 70 Kali Lipat, Diabetes Pada Anak Makin Ganas
JAKARTA-RAYA: Kasus diabetes pada anak di Indonesia melonjak hingga 70 kali lipat dalam satu dekade terakhir. Kondisi yang dulu lebih banyak menyerang orang dewasa kini semakin sering ditemukan pada anak-anak, bahkan sebagian di antaranya telah mengalami komplikasi serius seperti gagal ginjal.
Lonjakan ini menjadi alarm bagi pemerintah dan tenaga kesehatan untuk memperkuat upaya pencegahan melalui edukasi, pola hidup sehat, serta deteksi dini sejak usia sekolah.
Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan hingga 2025 terdapat sedikitnya 1.948 anak di Indonesia yang hidup dengan diabetes tipe 1. Kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari riwayat genetik, pola makan yang kurang sehat, minimnya aktivitas fisik, infeksi virus tertentu, hingga obesitas.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menilai perubahan gaya hidup masyarakat menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kasus diabetes di berbagai kelompok usia.
Saat ini Indonesia bahkan menempati posisi kelima dunia sebagai negara dengan jumlah penyandang diabetes terbanyak. Diperkirakan lebih dari 20 juta penduduk hidup dengan penyakit tersebut, dengan prevalensi mencapai 11,3 persen.
Yang paling mengkhawatirkan, kasus diabetes pada anak melonjak hingga 70 kali lipat dalam kurun waktu sekitar satu dekade. Tren serupa juga terlihat pada kelompok usia produktif di bawah 40 tahun yang jumlah penderitanya terus bertambah.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, mengatakan meningkatnya angka diabetes berkaitan erat dengan kebiasaan hidup yang semakin pasif.
"Yang pasti satu, harus seimbang. Yang penting itu keseimbangan antara asupan dan aktivitas," ujar Nadia dalam Leaders Forum bertajuk Jebakan Hidden Sugar: Ada di Mana-mana, Diam-diam Bikin Gendut, Jumat (5/6/2026).
Menurut Nadia, kemajuan teknologi dan layanan digital memang memberikan banyak kemudahan, tetapi di sisi lain membuat masyarakat semakin jarang bergerak.
"Kita naik diabetesnya karena kita tahu generasi muda sekarang sedentari dan apa-apa lebih mudah. Mungkin zaman saya kuliah kalau mau makan harus jalan kaki mencari warung. Kalau sekarang, warungnya datang dalam lima sampai 10 menit," tuturnya.
Kondisi tersebut membuat energi yang masuk ke dalam tubuh sering kali tidak diimbangi dengan pembakaran kalori melalui aktivitas fisik. Akibatnya, risiko kelebihan berat badan hingga obesitas meningkat dan menjadi pintu masuk bagi diabetes tipe 2.
Selain gaya hidup yang minim aktivitas, konsumsi makanan dan minuman tinggi gula juga menjadi perhatian serius. Nadia mengingatkan masyarakat untuk mulai menyesuaikan pola makan dengan tingkat aktivitas sehari-hari.
"Kalau kita tahu aktivitas fisik kita kurang, asupan kita harus dibatasi. Dengan adanya informasi kandungan gizi pada makanan dan minuman, sebenarnya kita bisa mengatur diri untuk membatasi asupan," jelasnya.
Ia mengakui mengubah kebiasaan memang bukan perkara mudah. Namun, langkah sederhana seperti mengurangi konsumsi makanan atau minuman manis setelah sebelumnya berlebihan dinilai dapat menjadi awal yang baik.
"Kalau hari ini minum yang manis-manis, besoknya dihindari atau dikurangi. Intinya balancing," katanya.
Para ahli sebelumnya juga telah mengingatkan bahwa meningkatnya kasus diabetes pada usia muda merupakan dampak dari kombinasi berbagai faktor, seperti tingginya konsumsi makanan cepat saji, minuman berpemanis, kurang olahraga, stres, hingga obesitas yang ditandai dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) tinggi.
Tanpa perubahan gaya hidup dan deteksi dini yang lebih masif, jumlah penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan dapat mencapai 28 hingga 40 juta orang pada 2045.
Karena itu, Kemenkes terus mendorong masyarakat membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia dini melalui pengendalian konsumsi gula, olahraga secara rutin, menjaga berat badan ideal, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Alarm Serius bagi Generasi Muda
Meningkatnya jumlah anak yang terkena diabetes kini menjadi perhatian berbagai pihak. lonjakan kasus diabetes anak sudah berada pada level yang mengkhawatirkan.
Di sejumlah fasilitas kesehatan bahkan ditemukan anak berusia 6 hingga 10 tahun yang harus menjalani cuci darah akibat komplikasi diabetes melitus tipe 2. Fakta tersebut menunjukkan bahwa penyakit yang dulu identik dengan orang dewasa kini telah menyerang anak-anak dengan komplikasi yang jauh lebih dini.
Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI Ahmad Heryawan menyebut kondisi ini sebagai alarm serius bagi masa depan generasi Indonesia. Menurutnya, upaya penanganan tidak cukup hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga harus diperkuat melalui langkah-langkah pencegahan sejak bangku sekolah.
Sebagai langkah preventif, pemerintah tengah menyiapkan integrasi pendidikan kesehatan ke dalam Kurikulum Nasional 2026. Program ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman siswa mengenai pola makan sehat, termasuk bahaya konsumsi gula berlebihan dan minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK).
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah menargetkan pemeriksaan kesehatan terhadap sekitar 50 juta anak sekolah di seluruh Indonesia. Hingga awal 2026, sekitar 20 juta anak telah mengikuti skrining kesehatan dasar sebagai bagian dari program deteksi dini nasional.
Materi kesehatan tersebut juga akan diselaraskan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan demikian, sekolah tidak hanya menyediakan makanan bergizi, tetapi juga membangun pemahaman siswa mengenai pentingnya menjaga pola makan sehat demi mencegah penyakit kronis sejak usia dini.
Meski begitu, para pakar mengingatkan bahwa keberhasilan upaya pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Orang tua tetap memiliki peran penting dalam mengenali tanda-tanda awal diabetes, seperti anak yang sering merasa haus, lebih sering buang air kecil, atau mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Kolaborasi antara keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan pemerintah dinilai menjadi fondasi utama untuk menekan laju peningkatan diabetes pada anak sekaligus melindungi kualitas kesehatan generasi Indonesia di masa depan.
Pemerintah diminta lebih tegas
Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA (K), pernah menyatakan bahwa pemerintah harus tegas membatasi peredaran makanan dan minuman tinggi gula.
"Saya kira sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian, sebagaimana pada bahaya rokok, terhadap bahaya gula ini," ujar Piprim, dalam temu media daring beberapa waktu lalu.
Ia menyarankan untuk pemberian label keterangan gula pada setiap makanan atau jajanan anak, yang bisa mudah dimengerti. Misalnya diberikan dalam gambaran takaran sendok.
"Seperti penjelasan memberi setiap minuman manis (kadar gulanya) setara dengan berapa sendok gula pasir," katanya.
Selama ini, peredaran makanan dan minuman tinggi gula relatif dianggap tidak berbahaya, tidak seperti 'awareness' risiko merokok.
"Ditambah, pada kemasan rokok terdapat tulisan 'rokok dapat membunuhmu'. Tapi kalau gula? Sampai saat ini kita belum melihat peringatan terhadap minuman atau makanan yang mengandung gula tinggi."
Pasalnya, dr Piprim menekankan sebagian besar makanan dan minuman yang beredar di pasaran mengandung gula dan pemanis buatan yang bila dikonsumsi secara jangka panjang, tentu membahayakan tubuh. Pada anak, kadar glukosa bisa meningkat dan menurun dengan cepat.
Efek ini jelas membuat anak menjadi rentan tantrum, mudah marah, mengamuk, kelaparan, dan mengidam makanan manis untuk meredakan kondisinya.
"Begitu terus, sehingga terjadi lingkaran setan, dan akhirnya anak menjadi adiksi, over-nutrisi, over-kalori, dan akhirnya terjadilah PTM seperti diabetes melitus, hipertensi, ginjal, dan lain sebagainya," wanti-wanti dr Piprim.
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
Belum ada komentar.