The Odyssey, Kisah Odysseus Menjadi "Bang Toyib" selama 20 Tahun
Judul Film: The Odyssey
Sutradara: Christopher Nolan
Bintang: Matt Damon dan Anne Hateway
Durasi: Tiga jam
Anda tentu pernah mendengar lagu dangdut "Bang Toyib" yang mengisahkan seorang suami yang merantau dan tidak pulang selama dua tahun. Sang istri yang rindu berat merasa sangat kehilangan dan ingin segera bertemu dengan Bang Toyib.
Bagaimana kalau Bang Toyib tidak pulang selama 20 tahun? Bisa dibayangkan bagaimana galaunya istri Bang Toyib yang terus setia menunggu kepulangan sang suami. Sang istri harus bertahan dari godaan para hidung belang yang ingin meminang karena terpesona oleh kecantikannya.
Itulah kisah Penelope ratu Athena yang ditinggal oleh raja Odyssey berperang melawan Troya. Odyssey yang ahli strategi berhasil menghancurkan Troya dengan menyusupkan patung kuda berisi manusia ke dalam kota.
Kisah penghancuran Troya adalah kisah kehebatan Achilles. Dalam film yang dibintang oleh Brad Pitt (2004) Achilles digambarkan sebagai jagoan yang komplet. Ia gagah, ganteng, dan sakti kebal senjata.
Ia membunuh pangeran Hector dalam duel satu lawan satu. Ia mengikat jenazah Hector dan menyeretnya dengan kereta kuda. Achilles menjadi episentrum, sementara Odyssey hanya figuran.
Kali ini sutradara Christopher Nolan membesut kisah Odyssey sebagai tokoh utama pasca perang. Setelah kemenangan itu Odyssey ingin pulang. Tetapi perjalanannya justru menghadapi berbagai macam tragedi yang tidak terduga.
Selama lebih dari dua milenium, dua mahakarya Homer—The Iliad dan The Odyssey—menjadi fondasi sastra Barat sekaligus sumber inspirasi yang nyaris tak pernah habis. The Iliad berkisah tentang kemuliaan sekaligus kebrutalan Perang Troya, maka The Odyssey adalah cerita mengenai konsekuensi perang, perjalanan pulang seorang pahlawan yang kehilangan hampir segalanya.
Di tangan Christopher Nolan, kisah klasik itu tidak dihadirkan sebagai petualangan fantasi yang penuh heroisme, melainkan sebagai meditasi suram tentang trauma, rasa bersalah, dan harga yang harus dibayar seorang manusia setelah perang usai.
Perbedaan pendekatan itu terasa mencolok jika dibandingkan dengan film Troy karya Wolfgang Petersen. Dalam film itu dunia Yunani kuno dipenuhi aura kepahlawanan yang flamboyan.
Pitt tampil sebagai bintang utama yang benar-benar "lakon", karismatik, nyaris tak terkalahkan, dan menjadi pusat gravitasi setiap adegan. Kamera mencintai Achilles. Setiap duel menjadi panggung untuk memamerkan keberanian dan keperkasaannya.
The Odyssey tidak menampilkan glorifikasi semacam itu. Odysseus yang diperankan oleh Matt Damon bukan lagi pahlawan yang dielu-elukan, melainkan seorang veteran perang yang membawa luka batin ke mana pun ia berlayar. Laut yang ia arungi bukan sekadar bentangan geografis, tetapi metafora bagi ingatan yang terus menghantuinya.
Warna-warna film yang cenderung dingin, lanskap berbatu, serta pencahayaan yang redup memperkuat kesan gloom dan melankolis. Bahkan ketika monster dan makhluk mitologi muncul, Nolan menempatkannya bukan semata sebagai tontonan spektakuler, melainkan sebagai manifestasi ketakutan dan rasa bersalah sang tokoh utama.
Improvisasi terbesar Nolan terletak pada cara ia menjahit The Iliad dan The Odyssey menjadi satu narasi psikologis. Dalam puisi Homer, Perang Troya hanyalah latar yang sudah berlalu ketika The Odyssey dimulai.
Nolan justru memperluas peristiwa-peristiwa perang, terutama kisah Kuda Troya, sehingga menjadi sumber trauma yang membentuk seluruh perjalanan Odysseus.
Dengan demikian, perjalanan pulang bukan lagi sekadar petualangan episodik, melainkan proses menghadapi dosa, kehilangan, dan identitas yang retak akibat perang.
Keberanian Nolan juga mengundang perdebatan. Salah satu yang paling ramai adalah pemilihan aktris kulit hitam sebagai Helen of Troy.
Kritik muncul dari mereka yang menganggap pilihan tersebut tidak sesuai dengan latar sejarah Yunani kuno, sementara pendukungnya berpendapat bahwa kisah Homer telah lama menjadi warisan budaya universal sehingga interpretasi lintas etnis sah dilakukan.
Dalam film Troy, posisi Odysseus hanya figur pendukung. Dalam The Odyssey Odysseus kini menjadi lakon utama, seluruh dunia film bergerak mengikuti perjalanan batinnya. Pergeseran fokus inilah yang membuat kedua film terasa seperti dua sisi mata uang yang sama.
Troy berbicara tentang bagaimana perang dimenangkan, sedangkan The Odyssey mempertanyakan apakah seorang pemenang benar-benar pernah pulang sebagai pemenang.
Pilihan tersebut membuat The Odyssey terasa lebih filosofis daripada emosional. Nolan mempertahankan ciri khasnya, struktur narasi yang tidak linear, permainan memori, dan dialog yang padat gagasan.
Bagi sebagian penonton, pendekatan itu menghasilkan pengalaman sinematik yang megah sekaligus menggugah. Bagi yang lain, film ini terasa terlalu dingin dan kurang menghadirkan kecerdikan strategi dan serta vitalitas Odysseus sebagaimana digambarkan Homer.
Perdebatan itu justru menunjukkan bahwa Nolan tidak berusaha memindahkan puisi kuno ke layar secara harfiah. Ia menafsirkannya kembali sesuai obsesinya terhadap waktu, ingatan, dan konsekuensi moral perang.
Kisah Troy berakhir dengan kematian tragis Achilles yang tewas terkena panah di tungkainya, bagian paling lemah di tubuh Achilles. Dalam Odysseus sang lakon juga tewas di pangkuan istrinya, setelah berhasil membunuh semua lawan yang berkhianat terhadap dirinya dan berniat merebut istrinya.
Pada akhirnya kisah kuno Yunani tetaplah tragedi yang mengiris hati. (dad)
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
Belum ada komentar.