Londo Ireng dan Rentetan Pidato Kontroversial Prabowo
JAKARTA-RAYA: Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan setelah pidatonya dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB di JCC Jakarta, pada Kamis malam (23/7).
Prabowo mengatakan istilah "londo ireng" tidak hanya merujuk pada masa kolonial, tetapi masih ada hingga sekarang dengan "baju" berbeda. Ia kemudian menyebut wartawan, pengamat, dan LSM sebagai contoh pihak yang menurutnya kerap menyebarkan narasi yang tidak berpihak kepada bangsa.
Secara historis, istilah "londo ireng" dikenal sebagai sebutan bagi pribumi yang bekerja untuk kepentingan pemerintah kolonial Belanda atau dianggap mengkhianati bangsanya. Ketika istilah itu digunakan dalam konteks kekinian dan dikaitkan dengan profesi tertentu, muncul kritik bahwa penyampaiannya dapat memicu stigma terhadap kelompok yang menjalankan fungsi kontrol terhadap pemerintah.
Jika ditarik benang merah, kontroversi-kontroversi tersebut menunjukkan pola komunikasi politik Prabowo yang relatif konsisten. Ia kerap menggunakan bahasa yang lugas, metafora historis, hiperbola, dan istilah yang mudah diingat untuk memperkuat pesan politiknya.
Dalam teori komunikasi politik, gaya seperti ini dikenal sebagai high-impact rhetoric, yakni penggunaan simbol dan bahasa emosional untuk menarik perhatian publik serta membangun identitas politik. Strategi tersebut efektif meningkatkan daya ingat publik terhadap pesan yang disampaikan, tetapi pada saat yang sama juga berisiko memunculkan multitafsir dan polarisasi apabila dikaitkan dengan kelompok tertentu.
Kasus "londo ireng" memperlihatkan karakteristik tersebut. Di satu sisi, Prabowo tampak ingin menyampaikan pesan tentang kewaspadaan terhadap pihak-pihak yang dinilainya tidak berpihak pada kepentingan nasional. Namun, penyebutan profesi seperti wartawan, pengamat, dan LSM membuat pernyataan itu bergeser dari metafora sejarah menjadi isu yang menyentuh kebebasan pers dan ruang kritik publik.
Dengan demikian, pidato "londo ireng" dapat dipandang sebagai kelanjutan dari pola retorika Prabowo selama bertahun-tahun: menggunakan diksi yang kuat untuk membangun narasi nasionalisme, tetapi sekaligus memunculkan kontroversi karena pilihan kata yang keras dan terbuka terhadap berbagai penafsiran
Bukan kali ini saja pidato Prabowo menuai kontroversi. Belumnya, Ketua Umum Partai Gerindra ini beberapa kali melontarkan kalimat yang mengundang polemik publik. Berikut deretannya:
1. Ndasmu Etik
Sebelum menjadi presiden, Prabowo juga menuai kontroversi pada Desember 2023 ketika melontarkan ungkapan "Ndasmu etik!" dalam acara internal Partai Gerindra. Kalimat itu muncul sebagai respons terhadap kritik lawan politik mengenai etika.
Ucapan tersebut viral dan memunculkan perdebatan mengenai etika komunikasi politik seorang calon presiden. Tim Prabowo saat itu menjelaskan bahwa pernyataan tersebut hanya candaan dan tidak dimaksudkan sebagai penghinaan.
2. Tampang Boyolali
Kontroversi lain yang masih diingat publik adalah pidato "tampang Boyolali" pada 2018. Saat itu Prabowo mengatakan masyarakat Boyolali mungkin tidak pernah masuk hotel-hotel mewah karena memiliki "tampang Boyolali".
Meski Prabowo menyatakan ucapannya merupakan bentuk satire mengenai kesenjangan ekonomi, banyak warga Boyolali merasa tersinggung. Bahkan sempat muncul aksi demonstrasi yang menuntut permintaan maaf.
3. Indonesia Bubar 2030
Pada 2018, Prabowo juga menghebohkan publik dengan pidato yang menyebut Indonesia berpotensi bubar pada 2030.
Belakangan diketahui rujukan yang dipakai berasal dari novel fiksi Ghost Fleet karya P.W. Singer dan August Cole, bukan hasil kajian ilmiah. Temuan itu memicu kritik terhadap validitas narasi yang disampaikan dalam pidato politik. (*)
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
Belum ada komentar.