RayaHankam

Kemhan Borong Selusin Jet Tempur M-346 F Block 20, Mendarat pada 2030

Fahmi | Jumat, 24 Juli 2026 | 09:51 WIB | 6 dibaca

JAKARTA-RAYA: Kementerian Pertahanan (Kemhan) kembali mendatangkan alat utama sistem senjata (alutsista) baru untuk TNI, dengan memborong selusin jet tempur baru, yakni M-346 F Block 20, buatan Leonardo, Italia.

"Salah satu pertimbangannya adalah memenuhi kebutuhan pelatihan pilot TNI Angkatan Udara sekaligus mendukung kesiapan operasional," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, dikuti dari Antara,  Jakarta, Jumat (24/7).

Rico menyatakan, M-346 F Block 20 dipilih karena spesifikasi dan kemampuan pesawat cocok dengan doktrin pertahanan udara yang dianut oleh TNI. Selain karena selaras dengan kebutuhan pertahanan, Rico menjelaskan pembelian pesawat tempur itu juga bagian dari upaya TNI dalam memodernisasi alutsista.

Dia meyakini kemampuan pertahanan Indonesia akan semakin kuat setelah adanya peningkatan kualitas teknologi alutsista di TNI. Rico menjelaskan kontrak pembelian ini sudah ditandatangani dan telah berjalan efektif. Menurut dia, jika semua berjalan lancar, pengiriman 12 unit jet tempur itu ke Indonesia akan dimulai pada 2030.

Sebelumnya, TNI AU juga telah memiliki pesawat tempur yang khusus dipakai untuk latihan para penerbang, yang paling terbaru yakni pesawat latih tempur T-50i yang dibeli Indonesia dari Korea Selatan. Pesawat itu kerap dipakai untuk oleh para penerbang sebelum mengawaki F-16 Fighting Falcon.

Incar Helikopter AW149

Selain pesawat temput, Kementerian Pertahanan (Kemhan) juga tengah membidik alutsista baru lainnya, untuk memperkuat pertahanan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dengan mendatangkan helikopter AW149.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menjelaskan saat ini proses kerja sama yang terjadi antara Kemhan dan perusahaan penerbangan asal Italia, Leonardo, terkait pengadaan helikopter AW149 masih dalam tahapan penandatanganan Letter of Intent (LoI).

Rico mengatakan poin dalam LoI itu bukan tidak hanya soal pengadaan saja, melainkan termasuk pengembangan dukungan teknis, pemeliharaan, pelatihan serta peningkatan kemampuan industri pertahanan dalam negeri.

Kendati demikian, Rico belum bisa menjelaskan secara rinci kapan proses pembelian helikopter itu akan berlangsung. Dia juga belum bisa menjelaskan berapa jumlah helikopter yang akan dibeli. Saat ditanya apakah helikopter tersebut dibeli untuk ditempatkan di dek kapal induk Giuseppe Garibaldi milik Indonesia, dia juga tidak menjawab hal itu.

"Pada prinsipnya, setiap pengadaan alutsista dilaksanakan dengan mempertimbangkan kesesuaian terhadap kebutuhan operasional TNI, keunggulan teknologi, dukungan logistik dan pemeliharaan sepanjang siklus hidup alutsista serta peluang pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan industri pertahanan nasional," ucap dia.

Pembelian Harus Komprehensif

Pengamat sekaligus Ketua Harian Perhimpunan Industri Pertahanan Swasta Nasional Mayjen TNI (Purn) Jan Pieter Ate menilai pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) harus dilakukan secara komprehensif, demi mempermudah pengoperasian dalam jangka panjang.

Menurut Jan Pieter, pembelian secara parsial atau tidak lengkap akan menyulitkan. embelian secara parsial yang dimaksud yakni pihak tertentu hanya membeli platform saja tanpa adanya fasilitas tambahan seperti kelengkapan senjata, amunisi hingga infrastruktur pendukung lainnya.

"Jadi kesiapsiagaan operasi itu ya ada platformnya, ada weapon-nya, ya ada logistik supportnya, ya ada awaknya, ada pusat trainingnya, itu dalam satu sistem," kata Jan Pieter, di Jakarta, baru baru ini.

Karenanya, pemerintah harus mengeluarkan anggaran yang cukup agar bisa membeli alutsista secara lengkap, tidak menunggu platform utama datang lalu kemudian dilengkapi secara bertahap.

Selain itu, Jan Pieter juga menilai alutsista yang dibeli Kementerian Pertahanan (Kemhan) harus sesuai dengan kebutuhan TNI sebagai pihak yang mengoperasikan. Pembelian alutsista tersebut, menurut dia, jangan hanya berdasarkan ketersediaan anggaran dan hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan kebutuhan TNI.

Dia melanjutkan, salah satu upaya yang dapat dilakukan agar pembelian alutsista tepat sasaran yakni membangun komunikasi dan koordinasi yang baik antara Kemhan dan TNI. Menurutnya, komunikasi yang terjalin antara Kemhan dengan TNI di bidang pembelian alutsista sudah berjalan dengan baik.

"Komunikasi antara Kemhan sebagai pemegang kewenangan di bidang kebijakan dan ketersediaan anggaran dengan TNI sebagai yang punya kebutuhan itu sudah berjalan," kata Jan Pieter.

Diketahui, tahun ini TNI telah kedatangan banyak alutsista. Beberapa yang menarik perhatian publik yakni kedatangan pesawat angkut buatan Boeing yakni dua buah A400M. Selain itu, TNI AU juga mulai menerima pesawat tempur Rafale secara bertahap mulai tahun ini.

Dari matra laut, TNI AL juga telah kedatangan dua kapal tempur yakni KRI Prabu Siliwangi, KRI Brawijaya buatan Italia dan satu kapal pendeteksi laut yakni KRI Canopus buatan Jerman.

Yang terdekat, TNI AL akan kedatangan kapal induk pertamanya Indonesia yakni Giuseppe Garibaldi yang dikabarkan akan datang sebelum HUT TNI, tahun ini. (*)

Komentar (0)

lock

Login untuk berkomentar

Belum ada komentar.

RayaSport

Indeks

Berita Terkait