RayaHankam

Kemenangan Militer Kini Bisa Berujung Kekalahan Ekonomi

Sudjito | Minggu, 26 Juli 2026 | 15:04 WIB | 4 dibaca

JAKARTA-RAYA: Konsep kemenangan mutlak dalam perang semakin kehilangan relevansi di tengah perkembangan teknologi, keterhubungan ekonomi, dan meningkatnya risiko konflik global yang berdampak lintas negara.

Menurut Anggota Komisi II DPR RI Azis Subekti, perang modern tidak lagi hanya menentukan siapa yang menang atau kalah di medan tempur. Konflik bersenjata kini memicu dampak luas, mulai dari terganggunya jalur perdagangan internasional, serangan siber, penggunaan pesawat nirawak, hingga gangguan rantai pasok yang dirasakan banyak negara.

"Kekuatan masih penting, tetapi kemenangan menjadi semakin sulit didefinisikan," kata Azis dilansir dari Antara, Minggu (26/7).

Ia mengatakan, keberhasilan dalam pertempuran tidak selalu berujung pada keuntungan strategis. Sebaliknya, kemenangan militer justru dapat berubah menjadi beban ekonomi yang berkepanjangan.

"Kemenangan militer dapat berubah menjadi kekalahan ekonomi. Keberhasilan taktis dapat melahirkan kerugian strategis," ujarnya.

Karena itu, Azis mendorong masyarakat internasional mulai meninggalkan paradigma kemenangan absolut dan beralih pada paradigma koeksistensi dalam menghadapi berbagai konflik global.

Menurut dia, koeksistensi bukan berarti menghilangkan persaingan maupun mengabaikan perbedaan kepentingan antarnegara. Konsep tersebut menekankan pentingnya mengelola kompetisi agar tidak berkembang menjadi konflik yang merugikan semua pihak.

"Koeksistensi adalah kesadaran bahwa keberlanjutan lebih penting daripada kemenangan sesaat. Persaingan harus dikelola agar tidak berubah menjadi kehancuran bersama," katanya.

Pandangan tersebut sejalan dengan sikap pemerintah Indonesia yang terus memperkuat diplomasi multilateral di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik dunia.

Posisi Indonesia

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan Indonesia akan tetap menjalankan politik luar negeri bebas aktif sebagai landasan menghadapi dunia yang semakin terfragmentasi.

Menurut Sugiono, politik bebas aktif bukan berarti bersikap pasif atau netral, melainkan menjaga kemandirian dalam menentukan sikap sekaligus aktif berkontribusi bagi perdamaian, stabilitas, dan ketertiban dunia.

"Indonesia tidak akan terseret ke dalam blok-blok eksklusif, tetapi akan terus membangun jembatan dan memperluas ruang strategisnya," ujar Sugiono.

Ia menambahkan, pendekatan tersebut memberi ruang bagi Indonesia untuk tetap berperan dalam menciptakan stabilitas global tanpa harus terjebak dalam rivalitas kekuatan besar dunia.

Komentar (0)

lock

Login untuk berkomentar

Belum ada komentar.

RayaSport

Indeks

Berita Terkait