Api yang Mengepung Rumah Terakhir Orangutan Kalimantan
PONTIANAK-RAYA: Api kini hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari Pusat Rehabilitasi Orangutan Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) di Ketapang, Kalimantan Barat. Jarak itu mungkin tampak dekat di atas peta, tetapi bagi orangutan Kalimantan, ia menjadi batas tipis antara kesempatan bertahan hidup dan ancaman kehilangan salah satu rumah pemulihan terakhir bagi spesies yang terus menyusut populasinya.
Kebakaran yang terdeteksi di Jalan Ketapang–Tanjungpura kilometer 5, Desa Sungai Awan Kiri, Rabu (22/7), telah menghanguskan sekitar 15 hektare lahan.
Dibandingkan luas kebakaran nasional, angka itu memang terlihat kecil. Namun di lokasi inilah, setiap hektare yang terbakar memiliki arti jauh lebih besar daripada sekadar angka statistik.
Menurut Direktur Operasional Program YIARI Argitoe Ranting, titik api berada sangat dekat dengan pusat rehabilitasi orangutan.
Situasi tersebut memaksa tim terus memantau perkembangan kebakaran karena ancamannya bukan hanya terhadap kawasan hutan, tetapi juga terhadap satwa yang sedang menjalani proses pemulihan sebelum dilepasliarkan.
"Sejak kebakaran terdeteksi, seluruh tim bergerak cepat menjalankan prosedur tanggap darurat untuk memastikan orang utan dan satwa lainnya tetap aman, sekaligus mendukung upaya pengendalian api di sekitar kawasan," katanya dilasnir dari Antara, Kamis (23/7).
Episentrum Karhutla
Peristiwa di Ketapang bukan insiden yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda Indonesia sepanjang 2026.
Data Kementerian Kehutanan menunjukkan kebakaran selama Januari hingga Juni 2026 telah menghanguskan 107.465,47 hektare lahan di seluruh Indonesia. Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas kebakaran terbesar mencapai 28.680,47 hektare, jauh melampaui Riau (15.477,95 hektare), Nusa Tenggara Timur (10.538,30 hektare), Maluku (7.091,07 hektare), dan Papua Selatan (6.281,81 hektare).
Artinya, bahkan sebelum api mendekati pagar pusat rehabilitasi YIARI, Kalimantan Barat telah lebih dahulu menyandang status sebagai wilayah dengan kerusakan karhutla terparah di Indonesia.
Tekanan terus meningkat di berbagai daerah. Di Kabupaten Sambas, hingga pertengahan Juli 2026, luas kebakaran telah mencapai 2.219,01 hektare, menjadikannya wilayah dengan karhutla terbesar keempat di Kalimantan Barat setelah Kubu Raya, Ketapang, dan Mempawah.
Di Kubu Raya, kobaran api bahkan sempat mengancam jalur penerbangan Bandara Supadio sehingga petugas Manggala Agni harus bergerak cepat melakukan pelokalisiran.
Padahal, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau baru akan berlangsung pada Agustus hingga September. Dengan kata lain, musim kebakaran masih belum mencapai fase terburuknya.
Rumah Orangutan Menyusut
Di balik angka-angka tersebut tersimpan ancaman yang jauh lebih serius: semakin sempitnya ruang hidup orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).
International Union for Conservation of Nature (IUCN) sejak 2016 menetapkan orangutan Kalimantan berstatus Critically Endangered, satu tingkat sebelum punah di alam liar.
Kajian Population and Habitat Viability Assessment memperkirakan populasi orangutan Kalimantan kini hanya sekitar 57.350 individu yang tersebar di lebih dari 40 kantong habitat.
Angka itu merosot tajam dibandingkan lebih dari 280.000 individu pada 1973, atau mengalami penurunan sekitar 80% dalam empat dekade.
Yang membuat ancaman kebakaran semakin mengkhawatirkan adalah karakter biologis orangutan sendiri. Satwa ini memiliki laju reproduksi paling lambat di antara mamalia besar. Betina baru melahirkan anak pertama pada usia sekitar 14–15 tahun dan rata-rata hanya melahirkan setiap tujuh hingga sembilan tahun.
Artinya, setiap hektare hutan yang hilang akibat kebakaran bukan sekadar kehilangan vegetasi. Yang ikut hilang adalah ruang hidup yang membutuhkan puluhan tahun untuk dipulihkan.
Karhutla datang ketika habitat orangutan sudah lebih dahulu tertekan oleh deforestasi.
Penelitian menunjukkan hampir 150.000 orangutan Kalimantan hilang antara 1999 hingga 2015, terutama akibat hilangnya hutan yang berubah menjadi kawasan perkebunan dan penggunaan lahan lainnya. Banyak kantong habitat orangutan juga berada di luar kawasan konservasi sehingga lebih rentan terhadap pembukaan lahan.
Dalam kondisi seperti itu, kebakaran menjadi pukulan kedua yang mempercepat penyusutan habitat. Deforestasi memperkecil ruang hidup, sementara api menghapus sisa hutan yang masih bertahan.
Asap yang Mengancam
Ancaman tidak berhenti ketika api berhasil dijauhkan dari pusat rehabilitasi.
Asap pekat yang menyelimuti kawasan sekitar juga berpotensi membahayakan satwa-satwa yang sedang menjalani rehabilitasi. Orangutan memiliki sistem pernapasan yang sama rentannya dengan manusia terhadap polusi udara.
Dokter spesialis mikrobiologi Simon Yosonegoro Liem menjelaskan paparan asap karhutla dapat memicu iritasi mata, hidung, dan tenggorokan serta meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Risiko tersebut berlaku bagi masyarakat maupun satwa yang tidak memiliki pilihan untuk berpindah ke tempat yang lebih aman.
Pengerahan helikopter water bombing oleh BNPB dan upaya pemadaman yang dilakukan Satgas Karhutla Ketapang menunjukkan respons darurat pemerintah berjalan cukup cepat. Namun, kebakaran yang berulang hampir setiap musim kemarau memperlihatkan persoalan yang jauh lebih mendasar.
Selama pembukaan lahan dengan cara membakar masih menjadi praktik yang terus terjadi, selama pengawasan terhadap kawasan rawan kebakaran belum diperkuat, dan selama perlindungan terhadap kantong habitat orangutan belum menjadi prioritas utama, ancaman serupa akan terus berulang.
Api memang bisa dipadamkan. Tetapi habitat yang telah hilang membutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun untuk kembali.
Pelaksana tugas Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang Efendi menegaskan upaya pemadaman kebakaran di sekitar Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI tidak hanya bertujuan menghentikan kobaran api, tetapi juga menjaga kelestarian hutan, melindungi habitat satwa liar, serta mengurangi risiko terhadap keselamatan warga di sekitar kawasan.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas, terutama pada musim kemarau. Efendi juga meminta warga segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran sehingga petugas dapat melakukan penanganan sejak dini sebelum api meluas.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan setiap indikasi kebakaran agar dapat ditangani sedini mungkin," katanya.
Di atas peta, 1 kilometer mungkin hanya terlihat sebagai garis pendek. Namun bagi orangutan Kalimantan, jarak itu bisa menjadi batas terakhir antara bertahan hidup atau kehilangan rumah yang tak mungkin tergantikan.
Setiap musim kemarau, pertanyaannya bukan lagi apakah api akan datang, melainkan seberapa dekat kobarannya mencapai rumah terakhir spesies yang tersisa.
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
Belum ada komentar.