Eropa Membara, Kebakaran Hutan Paksa Ribuan Warga Mengungsi
BORDEAUX-RAYA: Gelombang kebakaran hutan yang dipicu suhu ekstrem dan angin kencang melanda Prancis, Italia, dan Spanyol, Kamis (24/7). Ribuan warga dan wisatawan dievakuasi, sementara ratusan petugas pemadam kebakaran berjibaku mengendalikan api yang terus meluas.
Bencana ini menjadi salah satu yang terburuk di Eropa sepanjang tahun ini. Data European Forest Fire Information System (EFFIS) menunjukkan luas lahan yang terbakar di negara-negara Uni Eropa kini menjadi yang terbesar kedua dalam sejarah pencatatan.
Sedikitnya tiga petugas pemadam kebakaran dilaporkan tewas saat bertugas. Suhu di sejumlah wilayah Eropa Selatan juga menembus 40 derajat Celsius, memperparah penyebaran api dan menyulitkan proses pemadaman.
Prancis Minta Bantuan Uni Eropa
Kebakaran paling parah terjadi di pesisir barat daya Prancis, terutama di sekitar Bordeaux dan kawasan wisata Lège-Cap-Ferret. Lebih dari 20.000 orang, sebagian besar wisatawan yang menginap di perkemahan dan rumah liburan, telah dievakuasi sejak Rabu (23/7).
Presiden Emmanuel Macron mengatakan Prancis telah mengaktifkan “Mekanisme Perlindungan Sipil Uni Eropa” untuk meminta bantuan enam pesawat pemadam kebakaran. Langkah itu diambil karena puluhan titik api masih membakar wilayah tenggara dan barat daya negara tersebut.
Seorang warga Le Porge, Patrick Martineau, mengaku hanya memiliki sedikit waktu untuk menyelamatkan diri ketika api mendekati permukimannya.
"Polisi datang mengetuk setiap pintu. Api hanya berjarak sekitar 500 meter, jadi kami mengambil beberapa barang dan segera pergi," ujarnya.
Petugas kini melakukan pemadaman dari rumah ke rumah untuk melindungi kawasan wisata Lège-Cap-Ferret. Upaya tersebut dilakukan setelah sedikitnya 25 rumah dilaporkan hangus terbakar di wilayah tenggara Prancis sejak awal pekan.
Italia dan Spanyol Berjuang Padamkan Api
Di Italia, ribuan petugas dikerahkan untuk memadamkan puluhan kebakaran di Sisilia dan Calabria. Seorang petugas pemadam kebakaran meninggal dunia setelah jatuh sakit saat bertugas di Sisilia.
Sementara itu, otoritas Spanyol memerintahkan sekitar 3.500 warga di Aldea de Fresno, dekat Madrid, mengungsi karena kebakaran hutan yang tidak terkendali. Ratusan petugas dan personel militer juga masih berupaya menjinakkan kobaran api di Provinsi Guadalajara.
Kepala Perlindungan Sipil Spanyol Virginia Barcones mengatakan perubahan iklim membuat kebakaran menjadi semakin sulit dikendalikan. Menurutnya, suhu tinggi dan angin kencang menyebabkan sebagian kebakaran berkembang sangat cepat.
"Perubahan iklim membunuh, menghancurkan desa-desa kami serta warisan alam dan budaya kami," kata Barcones.
Para ilmuwan dari kelompok World Weather Attribution juga menyimpulkan bahwa perubahan iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil telah memperparah kekeringan di Eropa. Kondisi tersebut membuat kebakaran lebih mudah muncul, menyebar lebih cepat, dan semakin sulit dipadamkan.
Gelombang panas diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Otoritas di Prancis, Italia, dan Spanyol terus meningkatkan status siaga karena angin kencang dan suhu ekstrem berpotensi memicu kebakaran baru di berbagai wilayah.n
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
Belum ada komentar.