RayaInternasional

China Tolak Tarif Baru AS, Peringatkan Ancaman Perang Dagang

Anton | Jumat, 24 Juli 2026 | 15:36 WIB | 5 dibaca

BEIJING-RAYA: China mengecam kebijakan baru Amerika Serikat (AS) yang mengenakan tarif impor terhadap China dan 59 negara lainnya mulai Jumat (24/7). Beijing menilai langkah Donald Trump berpotensi memicu kembali perang dagang yang sebelumnya sempat mereda setelah kedua negara mencapai kesepakatan tahun lalu.

Tarif baru sebesar 10 persen hingga 12,5 persen diberlakukan dengan alasan dugaan praktik kerja paksa dalam rantai pasok global. China menjadi salah satu negara yang dikenai tarif tertinggi, yakni 12,5 persen.

Kebijakan tersebut kembali memperkeruh hubungan dagang dua ekonomi terbesar dunia. Langkah itu juga menimbulkan kekhawatiran bahwa ketegangan perdagangan global akan kembali meningkat di tengah pemulihan ekonomi yang masih rapuh.

Tolak Kebijakan Sepihak AS

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menegaskan Beijing menolak seluruh bentuk kebijakan tarif sepihak. Menurutnya, perang tarif maupun perang dagang tidak memberikan keuntungan bagi pihak mana pun.

"Kami menentang segala bentuk kebijakan tarif sepihak. Perang tarif dan perang dagang bukanlah kepentingan pihak mana pun," kata Lin Jian.

Pernyataan itu disampaikan sehari setelah pemerintahan Presiden Donald Trump mengumumkan tarif baru yang menggantikan kebijakan sementara sebelumnya. Washington menyebut kebijakan tersebut bertujuan memperkuat larangan impor produk yang diduga terkait praktik kerja paksa.

Perwakilan Dagang AS (USTR) Jamieson Greer mengatakan pemerintah AS menegakkan aturan larangan impor hasil kerja paksa secara ketat. Ia juga meminta negara-negara mitra menerapkan standar yang sama.

"Sudah saatnya mitra dagang kami melakukan hal yang sama," ujar Greer.

Gencatan Dagang Terancam Berakhir

Tarif baru ini muncul setelah hubungan dagang AS dan China sempat membaik. Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping sebelumnya mencapai kesepahaman untuk meredakan perang dagang saat bertemu pada Oktober tahun lalu.

Setelah kunjungan Trump ke Beijing tahun ini, kedua negara juga sepakat melanjutkan pembahasan untuk menurunkan tarif. Namun, kebijakan terbaru Washington dinilai berpotensi menggagalkan upaya tersebut dan membuka kembali babak baru ketegangan perdagangan.

Perhatian kini tertuju pada langkah balasan yang akan diambil Beijing. Jika kedua negara kembali saling menaikkan tarif, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan AS dan China, tetapi juga mengganggu rantai pasok serta perdagangan global.n

 

 

Komentar (0)

lock

Login untuk berkomentar

Belum ada komentar.

RayaSport

Indeks

Berita Terkait