Sama-Sama Diunggulkan, Siapa Berpeluang Jadi Sekjen PBB?
NEW YORK-RAYA: Persaingan menuju kursi Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih terbuka lebar menjelang pemungutan suara pertama Dewan Keamanan pada 30 Juli. Meski belum ada kandidat yang benar-benar unggul, masing-masing calon membawa kelebihan yang berpotensi menarik dukungan dari 193 negara anggota.
Selain kemampuan diplomasi, kandidat juga harus mampu memperoleh sedikitnya sembilan suara di Dewan Keamanan tanpa diveto oleh lima anggota tetap. Faktor geopolitik, keseimbangan kawasan, dan dorongan agar PBB dipimpin perempuan untuk pertama kalinya turut memengaruhi persaingan.
Kekuatan Enam Kandidat
Berikut nama-nama kandidat yang bertarung memperebutkan kursi Sekjen PBB mendatang:
- Rafael Grossi (Argentina), menjadi nama yang paling sering disebut sebagai unggulan oleh para diplomat. Direktur Jenderal IAEA itu dinilai memiliki pengalaman luas menangani isu keamanan internasional, terutama terkait program nuklir Iran dan perang di Ukraina.
- Rebeca Grynspan (Kosta Rika), dikenal sebagai tokoh pembangunan internasional. Pengalamannya memimpin UNCTAD membuatnya dinilai kuat dalam isu ekonomi global, pembangunan, dan reformasi lembaga PBB.
- Michelle Bachelet (Chile), membawa pengalaman sebagai mantan Presiden Chile dan mantan Kepala HAM PBB. Ia dipandang memiliki rekam jejak panjang dalam isu hak asasi manusia dan pemerintahan demokratis.
- Maria Fernanda Espinosa (Ekuador), memiliki keunggulan sebagai mantan Presiden Majelis Umum PBB. Pengalamannya memimpin sidang negara-negara anggota membuatnya memahami dinamika internal organisasi.
- Carolyn Rodrigues-Birkett (Guyana), dikenal sebagai diplomat aktif di PBB. Ia memperoleh perhatian karena berasal dari negara berkembang dan menekankan pendekatan langsung terhadap penyelesaian konflik.
- Macky Sall (Senegal), menjadi satu-satunya kandidat dari luar Amerika Latin. Mantan Presiden Senegal itu menawarkan pengalaman sebagai kepala negara dan dinilai berpotensi menarik dukungan dari negara-negara Afrika.
Persaingan Masih Sulit Diprediksi
Analis International Crisis Group Richard Gowan mengatakan Rafael Grossi memang masih paling sering disebut sebagai kandidat terdepan. Namun, ia menilai keunggulan tersebut belum cukup untuk memastikan kemenangan.
"Grossi memang masih paling sering disebut sebagai kandidat terdepan, tetapi persaingan belum selesai. Grynspan dan Rodrigues-Birkett juga memiliki banyak pendukung," kata Gowan.
Selain faktor kapasitas pribadi, proses pemilihan juga dipengaruhi keseimbangan politik di Dewan Keamanan. Hak veto lima anggota tetap membuat kandidat yang paling kuat sekalipun tetap bisa gagal apabila tidak diterima salah satu negara besar.
Di luar enam kandidat resmi, nama Presiden FIFA Gianni Infantino juga sempat beredar dalam spekulasi media internasional. Namun, hingga kini hanya enam nama tersebut yang mengikuti seluruh tahapan resmi pemilihan Sekretaris Jenderal PBB.
Pemungutan suara pertama pekan depan diperkirakan mulai memperlihatkan peta dukungan. Meski demikian, proses straw poll biasanya berlangsung beberapa putaran sebelum mengerucut pada satu kandidat yang mampu memperoleh konsensus Dewan Keamanan.n
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
Belum ada komentar.