RayaAnalisis

Londo Ireng ala Prabowo

Sudjito | Jumat, 24 Juli 2026 | 11:40 WIB | 12 dibaca

Oleh: Pimpinan Redaksi RayaTimes.Id Dhimam Abror Djuraid

JAKARTA-RAYA: Londo ireng atau Belanda hitam, zwarte Hollanders, dalam Bahasa Belanda, adalah sebutan untuk budak-budak kulit hitam yang direkrut oleh Belanda untuk dijadikan tentara di Hindia Belanda--sekarang menjadi Indonesia--pada awal abad ke-19.

Sebutan londo ireng juga sering disematkan kepada orang-orang Ambon yang menjadi tentara Belanda. Penyebutan londo ireng menjadi sindiran bagi orang pribumi yang bekerja untuk penjajah, terutama sebagai tentara.

Istilah londo ireng memiliki sejarah panjang dalam memori kolonial Indonesia. Ia merujuk pada pribumi yang dianggap mengabdi kepada kepentingan penjajah Belanda, sosok yang dipandang mengkhianati bangsanya sendiri. Dalam konteks sejarah, istilah itu lahir dari relasi kuasa kolonial yang jelas antara penjajah, terjajah, dan kolaborator.

Presiden Prabowo memakai istilah londo ireng untuk menyebut orang-orang Indonesia yang suka mengritik pemerintah, dan menerima dana dari organisasi luar negeri. Sebutan londo ireng ala Prabowo ini sama sebutan antek-antek asing yang sering dilontarkan Prabowo dalam banyak kesempatan.

Ketika Prabowo menyebut masih ada londo ireng yang kini menyamar sebagai jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat, ia mempertaruhkan bukan sekadar pilihan diksi, melainkan cara sebuah negara memandang kritik dan perbedaan.

Mungkin Prabowo memakai istilah itu untuk menarik garis demarkasi antara nasionalis dan pengkhianat. Retorika itu mencurigai "liyan" orang lain yang tidak sejalan dengannya.

Dalam teori perspektif post-kolonial, Frantz Fanon mengingatkan bahwa bangsa-bangsa pascakolonial kerap mewarisi--bukan hanya luka kolonialisme--tetapi juga cara berpikir kolonial itu sendiri. Musuh tidak lagi hadir sebagai kekuatan asing yang kasatmata. Ia harus terus-menerus diciptakan sebagai musuh bersama untuk membangun narasi persatuan.

Dalam masyarakat pascakolonial, identitas tidak pernah sesederhana hitam dan putih. Dunia dipenuhi ruang ruang hibrida tempat seseorang dapat mengkritik pemerintah tanpa kehilangan nasionalismenya, atau bekerja sama dengan institusi internasional tanpa otomatis menjadi kaki tangan asing. 

Di titik inilah paradoks mulai tampak. Prabowo kerap menggunakan narasi tentang "antek asing" sebagai perangkat retorik politik. Ia juga mengatakan agar pengkritiknya pindah ke luar negeri apabila tidak menyukai Indonesia. 

Retorika semacam ini membangun garis pemisah yang tegas antara patriot dan pengkhianat, seolah-olah kecintaan kepada tanah air hanya memiliki satu bentuk, yaitu persetujuan terhadap pemerintah.

Publik pun bereaksi. Di media sosial maupun diskusi publik, banyak yang mengingatkan bahwa Prabowo sendiri pernah lari di Yordania setelah diberhentikan dari dinas militer pada penghujung era Orde Baru. 

Kenyataan historis tersebut kemudian digunakan sebagai sindiran atas retorika yang mengaitkan keberadaan di luar negeri atau relasi internasional dengan kurangnya nasionalisme. 

Publik juga menyoroti keberadaan sejumlah tenaga asing dan konsultan internasional dalam lingkaran pemerintahan maupun institusi yang dekat dengan kekuasaan.Pada titik inilah konsepsi Prabowo mengenai nasionalisme menjadi paradoksal.

Sesungguhnya nasionalisme yang matang tidak lahir dari kecurigaan, melainkan dari rasa percaya diri. Ia tidak membutuhkan kambing hitam setiap kali  ada lontaran kritik. 

Pers yang bebas, akademisi yang kritis, dan LSM yang independen bukanlah ancaman bagi negara. Mereka adalah bagian dari ekosistem demokrasi yang justru mencegah negara tergelincir ke dalam kesewenang-wenangan. 

Bila ada pelanggaran hukum, penyelesaiannya adalah melalui mekanisme hukum, bukan melalui pelabelan kolektif yang berisiko mendeligitimasi kelompok di luar pemerintahan.

Kolonialisme telah berakhir sebagai sistem pemerintahan. Tetapi ia tetap hidup kembali sebagai cara berpikir. Ketika negara mulai melihat kritik sebagai pengkhianatan, dan perbedaan pendapat sebagai infiltrasi asing, sesungguhnya yang sedang direproduksi adalah logika kolonial tentang klasifikasi, pengawasan, dan penciptaan musuh. 

Yang berganti hanyalah subjeknya; struktur berpikirnya tetap sama.
Tantangan terbesar Indonesia hari ini bukanlah menemukan "londo ireng" yang masih berkeliaran. 

Tantangan yang lebih urgen adalah memastikan bahwa ingatan akan kolonialisme tidak berubah menjadi alasan untuk mencurigai sesama anak bangsa.

Sebuah republik tidak dibangun di atas keseragaman suara, melainkan di atas keberanian mendengarkan suara yang berbeda. Nasionalisme yang percaya diri tidak takut kepada kritik. Ia justru menjadikannya cermin untuk terus memperbaiki diri.n

Komentar (0)

lock

Login untuk berkomentar

Belum ada komentar.

RayaSport

Indeks

Berita Terkait