RayaInternasional

ASEAN Serukan Kebebasan Navigasi di Selat Internasional

Anton | Kamis, 23 Juli 2026 | 15:54 WIB | 3 dibaca

MANILA-RAYA: ASEAN akan menyerukan pentingnya kebebasan navigasi di selat-selat internasional di tengah perang Amerika Serikat (AS) dan Iran yang terus mengguncang pasokan energi global. Seruan itu menjadi salah satu poin utama dalam draf komunike bersama yang akan diterbitkan pada penutupan pertemuan para menteri luar negeri negara Asia Tenggara di Manila, Filipina.

Konflik di Timur Tengah membayangi hampir seluruh agenda pertemuan pekan ini. Penutupan Selat Hormuz telah memicu gangguan pasokan energi dan lonjakan harga minyak yang dirasakan negara-negara Asia Tenggara yang bergantung pada impor energi.

ASEAN juga kembali mendesak semua pihak menahan diri agar konflik tidak meluas. Organisasi kawasan itu menilai stabilitas jalur pelayaran internasional menjadi faktor penting bagi keamanan ekonomi regional.

Soroti Selat Hormuz

Draf komunike yang diperoleh AFP memasukkan frasa baru mengenai kebebasan navigasi dan penerbangan di atas selat internasional." Dokumen tersebut juga menyerukan agar pelayaran melalui Selat Hormuz tetap berlangsung tanpa hambatan.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan pesan serupa saat menghadiri pertemuan di Manila. Dia memperingatkan bahwa kendali Iran atas Selat Hormuz akan menjadi preseden berbahaya bagi jalur perdagangan internasional.

"Ada prinsip mendasar mengenai kebebasan navigasi yang kini sedang terancam," kata Rubio.

Meski menyoroti ancaman terhadap pasokan energi, ASEAN belum mengumumkan kemajuan konkret dalam kerja sama energi regional. Rencana pembangunan jaringan listrik ASEAN maupun skema berbagi cadangan bahan bakar masih belum menunjukkan perkembangan berarti.

Laut China Selatan Tetap Membayangi

Selain perang Iran-AS, ketegangan di Laut China Selatan juga menjadi perhatian dalam forum ASEAN. Pertemuan dibuka sehari setelah kembali terjadi insiden antara kapal China dan Filipina di wilayah sengketa tersebut.

Meski demikian, Duta Besar China untuk Filipina Jing Quan menegaskan insiden itu tidak akan menghambat perundingan Code of Conduct (CoC) di Laut China Selatan. Beijing tetap menargetkan penyelesaian pembahasan kode etik tersebut pada akhir tahun.

"Apa pun yang terjadi secara bilateral, komitmen kami untuk menyelesaikan perundingan kode etik pada akhir tahun ini tidak berubah," ujar Jing Quan.

Optimisme serupa disampaikan Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan. Ia meyakini perundingan CoC dapat dirampungkan sebelum KTT ASEAN yang dijadwalkan berlangsung di Manila pada November mendatang.

Komunike ASEAN diperkirakan akan menjadi pijakan diplomatik kawasan dalam menghadapi dua tantangan besar sekaligus. Selain krisis energi akibat perang AS-Iran, ASEAN juga harus menjaga stabilitas di Laut China Selatan yang masih menjadi titik panas rivalitas geopolitik.n

Komentar (0)

lock

Login untuk berkomentar

Belum ada komentar.

RayaSport

Indeks

Berita Terkait