Profil Haji Her, Sultan Madura yang Mengaku "Guyur" Khofifah Rp38 Miliar
JAKARTA-RAYA: Sosok Haji Her kembali menjadi sorotan setelah pernyataannya yang mengaku telah menghabiskan Rp 38 miliar untuk Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjaga jalannya pemerintahan dengan baik. Ucapan tersebut disampaikan pada acara Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Selasa (21/7).
Hadir pada acara tersebut Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono dan juga Gubernur Jawa timur Khofifah Indar Parawansa. Khofifah yang duduk di deretan kursi depan panggung hanya tersenyum.
Bukan kali ini saja, sosok Haji Her menjadi sorotan publik. Pada April 2026, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Haji Her sebagai saksi dalam penyidikan dugaan korupsi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Pemeriksaan tersebut berkaitan dengan pendalaman pengurusan pita cukai oleh perusahaan-perusahaan rokok.
Usai diperiksa, Haji Her menyatakan tidak mengenal para tersangka. Kepada penyidik, dia mengaku menjawab seluruh pertanyaan penyidik apa adanya.
Haji Her dikenal sebagai Crazy Rich Madura atau sultan Madura. Pemilik nama lengkap Khairul Umam kelahiran Pamekasan, pada 25 November 1981, dikenal sebagai salah satu pengusaha tembakau dan rokok terbesar di Madura. Ia berasal dari keluarga petani tembakau di Pamekasan. Haji Her disebut pernah mengenyam pendidikan di kampus swasta di Malang, sebelum menekuni bisnis secara penuh.
Perjalanan usahanya disebut dimulai dari perdagangan tembakau hingga akhirnya mendirikan perusahaan rokok sendiri. Dikutip dari berbagai sumber, saat ini, Haji Her mengelola sejumlah lini usaha, seperti PT Bawang Mas Group (industri rokok dan tembakau), Bento Group Indonesia (bisnis kuliner dan kafe), Perdagangan tembakau nasional dan distribusi hasil tembakau.
Selain itu, Haji Her juga dikenal sebagai Ketua Paguyuban Pelopor Petani dan Pedagang Tembakau Madura (P4TM), yang memperjuangkan kepentingan petani tembakau di Madura.
Selain sebagai pebisnis sukses, Haji Her juga dikenal sebagai aktivis sosial. Dia kerap membeli hasil panen tembakau petani saat harga jatuh, memberikan bantuan kepada pondok pesantre dan santunan kepada masyarakat di Jawa Timur. Salah satu kegiatan yang sempat mendapat perhatian adalah kolaborasi bersama ratusan ulama pesantren untuk membantu pembelian tembakau petani Madura.
Sorotan terhadap Bisnis Cukai Rokok
Sebagai tokoh industri rokok, Haji Her juga berada di tengah perdebatan tentang kebijakan cukai rokok, perlindungan petani tembakau, dan juga regulasi industri hasil tembakau. Para pendukung Haji Her menilai dia berperan menjaga kesejahteraan petani. Di sisi lain, sedangkan pihak yang mendorong pengendalian tembakau mengkritisi dampak industri rokok secara umum.
Haji Her juga dikenal sebagai seorang pengusaha yang punya koleksi mobil mewah yang tersimpan di rumahnya. Salah satu koleksi yang dibanggakannya adalah mobil bekas kepresidenan Gus Dur, Kia Enterprise V6 yang dibelinya seharga Rp350 juta.
Karena kekagumannya pada sosok Gus Dur, ia sering menolak tawaran dari pihak lain yang bersedia membelinya seharga Rp4 miliar. n
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
Belum ada komentar.