Houthi Serang Kapal Saudi, Ancaman Krisis Energi Kian Meluas
DUBAI-RAYA: Serangan kelompok Houthi terhadap dua kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah memperluas eskalasi perang Iran-Amerika Serikat (AS). Aksi terebut turut membuka ancaman baru terhadap jalur distribusi energi dunia.
Serangan Houthi itu terjadi ketika Selat Hormuz hampir sepenuhnya lumpuh. Tak pelak, hal itu memunculkan kekhawatiran bahwa dua jalur pelayaran minyak terpenting di Timur Tengah kini sama-sama berada dalam ancaman.
Perkembangan tersebut dinilai menjadi titik balik konflik karena tidak lagi hanya berpusat di Teluk Persia. Tetapi juga menjalar ke Laut Merah melalui Selat Bab el-Mandeb. Jika kedua jalur tersebut terganggu bersamaan, pasokan minyak global berpotensi semakin tertekan, mendorong kenaikan harga energi dan memperpanjang gangguan rantai pasok internasional. Harga minyak dunia bahkan telah naik selama lima hari berturut-turut akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan.
Houthi Buka Front Baru Melawan Saudi
Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang dua kapal tanker Saudi sebagai bagian dari blokade laut yang mereka umumkan awal pekan ini. Salah satu kapal tanker, Encelia, dilaporkan mengalami kerusakan dan mengirimkan sinyal darurat, sementara kondisi kapal Layla belum diketahui secara pasti. Sejumlah kapal komersial mulai mengubah rute pelayaran untuk menghindari kawasan tersebut.
Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan operasi tersebut merupakan bagian dari kebijakan blokade terhadap ekspor minyak Saudi.
"Kami memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Saudi dan akan menargetkan kapal yang terlibat dalam ekspor minyak sebagai respons atas agresi terhadap rakyat kami dan sekutu kami," kata Saree dalam pernyataan yang dikutip Reuters.
Houthi sebelumnya menyatakan blokade maritim terhadap Arab Saudi dilakukan dengan prinsip "mata ganti mata" dan melarang kapal melakukan aktivitas bongkar muat di pelabuhan Saudi. Langkah itu berpotensi menghambat sekitar 7% pasokan minyak global yang selama ini dialihkan melalui Laut Merah setelah gangguan di Selat Hormuz.
Analis menilai serangan tersebut memperbesar risiko terganggunya ekspor minyak Saudi menuju Asia sekaligus meningkatkan biaya logistik karena kapal harus memutar melewati Tanjung Harapan di Afrika Selatan.
AS Tingkatkan Serangan, Iran Ancam Balasan
Di saat yang sama, militer Amerika Serikat melanjutkan gelombang serangan udara terhadap sasaran di Iran untuk malam ke-12 berturut-turut. Presiden Donald Trump juga mengancam akan menyerang infrastruktur strategis Iran apabila Teheran terus menyerang kapal-kapal di kawasan.
"Kami akan melindungi kebebasan navigasi dan mengambil tindakan yang diperlukan terhadap siapa pun yang mengancam kapal-kapal internasional," ujar Trump.
Iran merespons dengan memperingatkan akan melakukan pembalasan "setimpal" apabila ancaman tersebut direalisasikan. Teheran juga menegaskan setiap upaya menghambat kepentingannya akan dibalas melalui berbagai jalur, termasuk di kawasan maritim Timur Tengah.
Konflik kini memasuki fase yang lebih luas dengan melibatkan proksi regional dan jalur perdagangan internasional. Perhatian dunia akan tertuju pada respons Arab Saudi, langkah militer Amerika Serikat berikutnya, serta kemungkinan intervensi diplomatik untuk mencegah krisis energi global berkembang menjadi gangguan ekonomi yang lebih besar.n
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
Belum ada komentar.